edukasi

Issu MBG Manjadi Kemasan Snack, Pemerintah Terkesan Tutup Mata 

Issu MBG Manjadi Kemasan Snack, Pemerintah Terkesan Tutup Mata 

spjnews.id I GARUT - Baru - baru ini menjelng libur panjang pendistribusian MBG dibeberapa wilayah di Kabupaten Garut, rata rata menu MBG berubah menjadi makanan ringan yang biasa di jual di warungan, seperti susu kotak, telur, pisang, jeruk, salak, dan cemilan ringan lainnya. 

Beragam tanggapan dan keluhan yang sampai diredaksi spjnews, menjadi issu utama yang menggelitik mengalir bagaikan air, kenapa pembagian MBG dikeluhkan, tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api.

Issu pertama kualitas serta jenis MBG dinilai tidak mengacu pada regulasi yang di tetapkan BGN.

Issu kedua, lemahnya pengawasan, sehingga SPPG secara leluasa menyajikan MBG secara praktis tanpa ada proses pengolahan. 

Issu ketiga, ketidak jelasan regulasi menu makanan bergizi gratis (MBG) dimasa libur panjang.

Issu keempat, ada SPPG yang menyajikan MBG menggunakan kresek hitam atau putih yang semestinya tidak layak digunakan 

Issu Kelima, dengan sajian makanan kering secara sistematis dapur MBG tidak berfungsi secara maksimal dan mengurangi resiko seperti belanja bahan pokok dan mengurangi tenaga kerja.

Dilansir media online Fakta Garut. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan gizi anak justru memantik badai kritik di Kabupaten Garut. Alih-alih menghadirkan asupan bergizi seimbang, berbagai paket MBG yang diterima warga dinilai jauh dari kata layak.

Gelombang keluhan itu membanjiri Grup WhatsApp Update Berita Garut. Warga secara terbuka mengirimkan foto paket MBG yang isinya didominasi makanan ringan, susu kemasan kecil, biskuit, serta buah dengan porsi terbatas. Banyak pihak mempertanyakan, apakah menu tersebut benar-benar mampu memenuhi kebutuhan gizi, atau sekadar menggugurkan kewajiban program.

Sorotan keras datang dari aktivis Garut, Asep Nurjaman (Beo). Ia menilai kondisi ini sebagai sinyal serius adanya persoalan dalam pelaksanaan program nasional yang menyentuh hajat hidup masyarakat luas.

“Ini bukan soal selera, tapi soal substansi. Kalau isinya seperti ini, MBG berpotensi kehilangan makna. Jangan sampai program strategis ini hanya jadi kegiatan seremonial tanpa dampak nyata bagi anak-anak,” tegas Asep melalui WhatsApp. Senin (15 Desember 2025).

Semestinya, dengan bukti-bukti baik poto maupun visual yang beredar di ruang publik seharusnya menjadi alarm keras bagi Pemerintah dan pelaksana di lapangan. Menurutnya, MBG tidak boleh direduksi menjadi pembagian snack, sementara tujuan utama pemenuhan gizi terabaikan.

Keluhan warga juga mengarah pada efektivitas program. Sejumlah orang tua mempertanyakan kelayakan paket MBG untuk dikonsumsi secara berkelanjutan. Bahkan ada yang menyebut porsi tersebut. “tidak masuk akal” jika diklaim sebagai makanan bergizi yang menunjang tumbuh kembang dan konsentrasi belajar anak.

Asep mendesak adanya evaluasi total, mulai dari perencanaan menu, pengadaan bahan, hingga pengawasan anggaran. Ia menegaskan, transparansi dan akuntabilitas harus dikedepankan agar MBG tidak mencederai kepercayaan publik.

“Kalau dibiarkan, ini bisa menciptakan presiden buruk. Program bagus, tapi rusak di level pelaksanaan,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara MBG di Garut belum memberikan keterangan resmi terkait derasnya keluhan masyarakat yang terus bergulir. (ajangpendi)