Dinas Pendidikan Tulungagung Gagal Menjadi Teladan Disiplin alias Pembohong
spjnews.id | TULUNGAGUNG, — Seperti sebuah ironi yang menampar wajah publik, Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung justru gagal menunjukkan teladan disiplin dan etika yang mestinya menjadi fondasi lembaga pendidikan. Menam Maulana, Ketua PSM Lidra Kabupaten Tulungagung bersama tim wartawan mendatangi kantor dinas pada sekitar pukul 10.00 pagi untuk memastikan adanya sidang kode etik terhadap oknum guru SDN 2 Geger, saudara Zein. (26 Februari 2026)
Namun, yang ditemui bukanlah proses penegakan disiplin, melainkan kekosongan aktivitas. Informasi yang sebelumnya disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Sukowiyono dan Kasi Ketenagakerjaan Izul Kahardianto bahwa akan ada pemanggilan pukul 09.00 WIB ternyata tidak terbukti. Menam Maulana, setelah menunggu lama di pos satpam, akhirnya masuk dan menanyakan langsung ke resepsionis. Jawaban yang diterima: tidak ada kegiatan sidang kode etik hari itu. Bahkan bagian analisis SDM aparatur Ambar tidak ada diruangan, humas pun tidak mengetahui acara tersebut.
Dengan nada kecewa, Menam Maulana menegaskan bahwa Dinas Pendidikan seharusnya menjadi teladan yang “digugu lan ditiru.” Namun kenyataan yang ia alami justru menimbulkan rasa ditipu. Ia bahkan menduga ada perlakuan pilih kasih, seolah oknum guru tersebut memiliki kedekatan dengan pejabat tinggi sehingga proses pemeriksaan berjalan lamban. “Jangan-jangan orangnya Bupati, sehingga ada rasa dak enak meriksa,” ujarnya, membandingkan dengan kasus Mohadi yang hanya dalam sepekan sudah dijatuhi sanksi.
Fenomena ini mencerminkan krisis moral birokrasi: ketika lembaga yang mestinya menjadi mercusuar disiplin justru menampilkan wajah ketidakpastian dan ketidakjelasan. pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter. Maka, jika Dinas Pendidikan sendiri gagal menunjukkan sikap disiplin, bagaimana mungkin ia mampu menanamkan nilai itu kepada para guru dan murid?
Ketidakjelasan jadwal, lemahnya koordinasi, dan dugaan pilih kasih adalah tanda bahwa birokrasi pendidikan di Tulungagung sedang kehilangan ruh keteladanan. Padahal, masyarakat menaruh harapan besar agar lembaga ini menjadi benteng moral dan etika. ( Mualimin/ SPJ News.id )